Seputar Three In One, Si Solusi Kemacetan yang Sudah Berumur 24 tahun

Akhir – akhir ini kembali ramai wacana penghapusan 3 in 1 di Jakarta. FYI, Three in One ini sendiri udah ada sekitar 24 tahun lalu. Dan dari wacana yang ada, pengganti 3 – in – 1 nanti adalah 4 – in – 1 atau ERP. Namanya juga wacana, jadi segala kemungkinan masih dicoba dan digumamkan.

Bukan tentang perkara wacana penggantian 3 in 1 yang akan dibahas di sini, tapi lebih kepada awal mula 3 in 1 ada di Jakarta.

Three in one pertama kali diberlakukan di DKI Jakarta pada 20 April 1992. Yang menjadi landasan hukumnya adalah Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 613/1992. Dan waktu itu, nama sebenarnya adalah Kawasan Pembatasan Penumpang. Namun, karena dalam prakteknya yang terjadi adalah mengharuskan 1 mobil diisi oleh 3 orang atau lebih, jadi orang-orang lebih mengenal Kawasan Pembatasan Penumpang ini dengan nama Three in One.

Dulu, kebijakan 3 in 1 diberlakukan bukan untuk membatasi banyaknya penumpang sesuai dengan kapasitas jok mobil, melainkan untuk membatasi sedikitnya jumlah penumpang.

Gampangnya gini, kalo 1 mobil bisa berame-rame, kenapa harus sendirian, sih? Nah~

Ternyata, sejak awal diberlakukan di tahun 1992, si 3-in-1 ini juga udah memancing pro dan kontra. Inti permasalahannya sih kurang lebih sama kayak yang terjadi saat ini. Jadi, banyak banget orang yang saat itu ngerasa kalo kebijakan 3 in 1 gak begitu efektif, gak memberi pengaruh apa-apa terhadap kemacetan di Jakarta. Alasan lainnya adalah, persoalan macet di Jakarta itu penyebab utamanya adalah sarana angkutan umum yang kurang baik, yang membuat orang jadi gak tertarik untuk menggunakan kendaraan umum. Untuk anda yang penasaran darimana data ini didapat, silahkan cek ke link ini.

Waktu Berlaku 3 in 1 yang Selalu Berubah

Waktu pemberlakukan 3 in 1 ini juga berubah-ubah seiring berjalannya waktu. Diawal kemunculannya tahun 1992 sampai tahun 2003, 3-in-1 berlaku mulai 06:30 – 10:00 di pagi hari dan hanya pagi hari. Kemudian di tahun 2003 – 2004, 3-in-1 berlaku mulai 07:00 – 10:00 pagi dan 16:00 – 19:00 malam. Dan di tahun 2004 hingga kini, berlaku mulai 07:00 – 10:00 pagi hari dan 16:30 – 19:00 malam hari. Dari data ini, sebenarnya gak begitu drastis perubahannya sih.

Ngomongin soal 3-in-1 Gak Lepas dari Joki Three in One

Emang ya orang Indonesia pinter banget ngeliat peluang. Ada peraturan 3-in-1, langsung nongol jokinya nih, alias orang yang kerjanya emang untuk menutup kuota mobil, supaya 1 mobil berisi 3 orang. Gitu.

Dan Joki ini juga yang menjadi salah satu alasan kenapa Gubernur Ahok pengen banget menghapus 3-in-1 di Jakarta. Jadi dari kabar yang beredar, di dalam perjokian ini, ada juga kasus eksploitasi anak-anak oleh para joki ini. Gak jarang ditemukan joki yang membawa anak, eh anak-anaknya mah kalem tidur gitu, gak taunya dikasih obat tidur atau obat penenang supaya anteng. Nah, ini yang mau Gubernur Ahok hilangkan dengan menghilangkan 3-in-1.

Dan lagi, menurut berbagai sumber, joki three in one juga udah jadi semacem jaringan buat nyari uang. Ini terbukti dari ditemukannya beberapa kumpulan joki yang dipimpin sama korlap. Jadi sebenarnya udah terbentuk semacam jaringan besar di dalam bisnis perjokian ini. Hmm..

Masih ngomongin soal sisi gelap Joki 3 in 1 nih. Selain bisnis perjokian, ada juga yang namanya joki ehem – ehem. Jadi, si joki ehem – ehem ini kerjanya gak cuma jadi joki aja, tapi juga ehem – ehem itu tadi. Makanya, para joki ehem – ehem ini pendapatannya bisa gede banget. Malah ada yang bisa dapetin 4 juta/bulan Cuma dari ngejoki 3-in-1 aja. Keren gak tuh?

Setelah Joki Dihapus, Akan Ada 4-in-1 dan Electronic Road Pricing (ERP)

Terus setelah 3-in-1 dihapus, penggantinya apa nih? Dari wacana yang ada, Pemda DKI Jakarta udah nyiapin 4-in1 dan ERP atau electronic road pricing.

Untuk 4-in-1, konsepnya gak beda jauh sama 3-in-1. Bedanya cuma orang yang didalam mobil harus nambah aja. Dari yang tadinya minimal ada 3 orang dalam 1 mobil, sekarang jadi 4 orang.

Peraturan ini nantinya diharapkan bisa membuat para pengguna mobil pribadi pikir ulang buat bawa mobil pribadi mereka. Dan juga menghapuskan joki mobil. Karena dengan diadakan 4-in-1, tentu para pemilik mobil akan berpikir dua kali jika ingin menggunakan 2 joki. Selain karena biayanya yang pasti akan lebih mahal juga karena, siapa sih yang nyaman sama 2 orang asing di dalam mobil?

Soal 4-in-1 ini udah dicoba duluan sama Bandung dari tahun 2014 lalu. Namun karena dinilai tidak efektif, akhirnya sistem ini diganti dengan sistem retribusi.

Dan, rencana kedua jika ternyata 4-in-1 juga gak bisa jalan dengan baik di Jakarta adalah pemberlakuan Electronic Road Pricing atau ERP.

ERP adalah sistem jalan berbayar, di mana nantinya mobil yang melewati sebuah jalan dengan teknologi ERP akan direkam nomor polisinya. Terus, rekaman ini kemudian dimasukkan ke dalam basis data kendaraan untuk kemudian dilakukan penagihan sesuai tarif yang berlaku. Jadi hampir sama kayak jalan tol. Tapi beda.

Rencananya juga, ERP bakalan diterapkan berbarengan dengan sistem pendataan kendaraan bermotor yang berbasis elektronik, yaitu electronic registration dan identification (ERI).  Dengan demikian, penegakan hukum lalu lintas yang dipakai juga berbasis elektronik, yaitu electronic law enforcement (ELE) sehingga tidak perlu ada penilangan di tempat.

Pengendara yang mobilnya tidak dipasang OBU (E-toll On Board Unit) atau saldo OBU habis, gerbang elektonik ERP dapat mendeteksi dan merekam data. Data kemudian akan diberikan oleh petugas Dishub ke kepolisian yang nantinya akan mengirimkan surat tilang ke alamat pemilik kendaraan.

Wah, jadi sekalian gitu. Double enaknya ini mah. Hahaha.

Nah, demikian info seputar 3-in-1 dan juga cerita soal para calon penggantinya. Semoga aja ketemu solusi terbaik, yang jelas sih mengurangi macet.

Dan biar gak ribet sama macet sih, emang udah paling enak naik angkutan umum. Gak bingung sama 3-in-1 atau 4-in-1. Ya gak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *