Tahun Baru, Wajah Kopaja Juga Baru

Tidak lagi hijau-putih atau hijau-abu-abu, kini Kopaja telah menjelma menjadi biru-putih. Apa yang terjadi?

Kiri ke kanan: Kopaja, Kopaja AC, Kopaja Terintegrasi Transjakarta

Kiri ke kanan: Kopaja, Kopaja AC, Kopaja Terintegrasi Transjakarta

Ternyata, Kopaja telah berubah menjadi Bus Kopaja Terintegrasi Transjakarta. Bus yang resmi dirilis pada 21 Desember ini akhirnya mewujudkan mimpi Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, untuk menyediakan angkutan umum yang layak bagi warganya. Bagaimana tidak, bus yang menjadi pelopor diantara sekawanan bus sedang non-Transjakarta ini didesain khusus dengan pintu geser otomatis yang hanya akan terbuka jika bus berhenti. Seperti ingin menyempurnakan pelayanannya, bus ini bahkan dilengkapi global positioning system (GPS).

Pada bagian dalam, bus ini diisi dengan kursi berwarna hijau yang disusun menghadap ke depan dan ke samping. Bus ini juga dilengkapi handle berbentuk segitiga untuk pegangan bagi penumpang. Seperti layaknya bus-bus Transjakarta pada umumnya, bus ini pun mengangkut penumpang di halte Transjakarta, sembari menunggu halte khusus bus terintegrasi dibuatkan oleh Pemda DKI.

Tampilan luar dan dalam Kopaja Terintegrasi Transjakarta

Tampilan luar dan dalam Kopaja Terintegrasi Transjakarta

Sesuai aturan bus Transjakarta, sopir tidak diperbolehkan menaikkan atau menurunkan penumpang sembarangan. Seperti janji Pak Ahok, sopir Kopaja Terintegrasi Transjakarta akan digaji lebih besar dari pada UMP karena bus ini telah menggunakan sistem pembayaran Rupiah per kilometer. Penumpang cukup membayar Rp3.500 dengan sekali tap di halte Transjakarta. Sementara itu, sopir bus akan dibayar sebesar Rp10.350 per kilometer dengan subsidi dari Pemprov DKI sehingga mereka tidak perlu berlomba mengejar setoran. Namun, untuk menjadi sopir bus ini, harus melalui proses rekrutmen yang dilangsungkan sejak Desember 2015 hingga Februari 2016 oleh PT Transjakarta.

Bus yang dulunya bertuliskan “Kopaja” dan berganti menjadi “Transjakarta” ini diluncurkan sebanyak 320 armada. Ada enam rute yang akan siap dioperasikan, yakni Monas-Pantai Indah Kapuk (30 bus), Ragunan-Monas (50 bus), Ragunan-Dukuh Atas (50 bus), Lebak Bulus-Senen via Stasiun Cikini (80 bus), Blok M-Manggarai via Stasiun Manggarai (40 bus), dan rute lainnya yang masih dirunding­kan (70 bus). Ini cerita soal Kopaja, apa kabar Metro Mini yang harusnya mengikuti jejak Kopaja (mengingat banyak armada bus ini yang tak layak jalan) ?

Tampilan Metro Mini saat ini

Tampilan Metro Mini saat ini

Rupanya, Metro Mini akhirnya menyatakan diri bergabung dengan Transjakarta setelah melalui perundingan yang cukup panjang dengan Dishubtrans DKI. Namun, rencana ini baru dapat direalisasikan setelah pihak Metro Mini mampu menyediakan bus yang sesuai dengan standar bus Transjakarta. Pihak Metro Mini menyatakan bahwa mereka siap bergabung dan meminta pihak Dishubtrans DKI untuk membimbing bagaimana dan apa yang harus dilakukan untuk bergabung dengan Transjakarta.

Persetujuan untuk bergabung ini sepertinya dilatarbelakangi tindakan Pemprov DKI yang mengandangkan bus-bus Metro Mini yang tak layak jalan. Selain itu, iming-iming Pak Ahok mengenai gaji sopir yang cukup menggiurkan juga mempercepat pemimpin Metro Mini untuk mengambil tindakan. Bagaimana nasib bus-bus non-Transjakarta lain seperti Kopami dan Koantas Bima? Apakah harus menunggu tindakan pengandangan dari Dishubtrans untuk membuat mereka bergabung dengan Transjakarta? Atau pemerintah sudah menyiapkan cara lain?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *