Angkutan Umum Jakarta Tak Ramah Difabel?

Penumpang difabel di angkutan umum

Penumpang difabel di angkutan umum

Sebuah riset yang dilakukan oleh Lembaga Bantuan Hukum Jakarta menunjukkan bahwa fasilitas angkutan umum di Jakarta tidak ramah bagi kaum difabel. Dari 12 halte Transjakarta dan 10 stasiun Commuter Line yang disurvei, tidak satu pun yang menunjukkan bahwa fasilitas tersebut dapat diakses oleh difabel. Dalam penelitian tersebut, ada beberapa fasilitas yang diamati yaitu akses keluar masuk, kesejajaran konstruksi, kemudahan pembelian tiket, aksesibilitas papan informasi, ruang khusus, serta ketersediaan petugas.

Difabel atau disabilitas adalah istilah yang meliputi gangguan, keterbatasan aktivitas, dan pembatasan partisipasi yang dihadapi oleh individu dalam melaksanakan tugas atau tindakan. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Nasional (Kemenkes), penderita difabel pada 2011 berada di angka 6,7 juta jiwa atau 3,11 persen. Sedangkan menurut catatan dari World Health Organization (WHO), Indonesia memiliki penderita difabel lebih dari 10 juta jiwa.

Karnaval Budaya Disabilitas

Karnaval Budaya Disabilitas

Dengan jumlah yang cukup banyak ini, sudah semestinya kaum difabel mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 71 Tahun 1999 tentang Aksesibilitas bagi Penyandang Cacat dan Orang Sakit pada Sarana dan Prasarana Perhubungan mengatakan, penyelenggara angkutan wajib melaksanakan pengangkutan penyandang cacat dan orang sakit dengan aman, selamat, lancar, tertib, teratur, dan nyaman.

Ruang khusus bagi penumpang difabel di Bus Transjakarta

Ruang khusus bagi penumpang difabel di Bus Transjakarta

Sebenarnya, pemerintah sudah menyediakan fasilitas khusus bagi kaum difabel, namun tidak maksimal. Misalnya, bus Transjakarta dan Commuter Line sudah menyediakan ruang khusus bagi kaum penumpang difabel tetapi akses untuk masuk bus Transjakarta dan Commuter Line masih sulit dimasuki. Jarak antara bus dengan halte atau Commuter Line dengan peron masih cukup jauh sehingga menyulitkan penumpang difabel. Ruang khusus ini juga masih tersedia di bus Transjakarta dan Commuter Line, bagaimana dengan angkutan umum lain seperti Kopaja, Metro mini, dan angkot?

 

Guiding block untuk difabel

Guiding block untuk difabel

Pemerintah diharapkan dapat menyediakan fasilitas berdasarkan kebutuhan kaum difabel. Misalnya trotoar harus bisa dilewati oleh pengguna kursi roda yang memiliki penggiringannya atau bagi yang tuna netra diberikan trading blok yang memiliki tekstur yang bisa diraba oleh tongkat mereka. Selanjutnya, semua hal yang berkemungkinan mencelakakan harus diberikan tanda atau bagi tuna rungu yang hanya bisa melihat harus diberikan sinyal berupa lampu kedap-kedip.

 

 

 

Di beberapa negara lain, seperti Singapura dan Jepang, hak kaum difabel benar-benar diprioritaskan. Mereka diberikan perhatian khusus dengan banyaknya fasilitas yang mendukung gerak mereka. Dengan fasilitas yang memadai, kaum difabel tentu dapat hidup dengan mandiri karena tidak perlu mengandalkan orang lain. Dengan begitu, mereka dapat bersosialiasi dengan orang lain seperti kita semua.

Fasilitas untuk difabel di Singapura

Fasilitas untuk difabel di Singapura

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *