Dilema e-Tiket, APTB, dan Kopaja AC

Orang menyebrang jalur Busway

Orang menyebrang jalur Busway

Jalur TransJakarta sekarang tidak lagi cuma dilewati bus merah oranye dan hitam abu-abu. APTB (Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway) dan Kopaja AC juga bisa lewat jalur khusus yang katanya anti macet itu.

Aksesnya gampang. Bisa melalui terminal busway, atau tinggal cegat di tengah jalan, lalu masuk bus dan bayar. Tidak ada bedanya. Biayanya pun sama, cuma seharga tiket bus.

Ya, dulu memang siapa pun masih bisa bayar tiket APTB atau Kopaja AC langsung di loket busway. Tapi sekarang, TransJakarta punya ide “luar biasa” dengan sistem e-Tiket. Terminal busway cuma bisa dimasuki oleh yang punya saldo dalam kartu elektronik khusus.

Artinya, sudah tidak bisa lagi hanya beli tiket APTB atau Kopaja AC. Mau masuk terminal busway untuk cegat si bus, harus bayar seharga tiket busway dulu. Tiga ribu lima ratus terbuang. Baru ditambah harga tiket bus terintegrasi. Kopaja AC 6 ribu dan APTB 6 ribu ke atas. Lebih mahal.

Tapi, asyyiiik!! TransJakarta mempermudah hidup karena e-Tiket lebih efektif dan efisien! Terima kasih!

Ups, apa benar begitu?

Coba pikir lagi. Kebijakan e-Tiket mendorong masyarakat ke salah satu pilihan bayar. Karena lewat halte busway jadi lebih mahal, lebih banyak yang pilih cegat di tengah jalan. Apa dampaknya?

Oke, sekarang kita terpaksa menyeberang jalan yang ramai untuk berdiri di tengah jalur busway demi naik Kopaja AC. Kalau APTB, masih “patuh” aturan karena tidak mau mengangkut penumpang di tengah jalan. Masih harus lewat halte busway, meskipun jadi lebih mahal.

Tapi APTB itu untuk jarak jauh. Kita lebih akrab dengan Kopaja yang lazim buat menempuh jarak dekat.

Tapi bagaimana mengaksesnya, sekarang terserah kamu. Tambah Rp 3.500 untuk untuk naik langsung dari halte pakai kartu, atau membahayakan diri biar lebih murah.

Kalau suatu hari ada masalah, siapa yang harus salahkan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *